MATERI PELATIHAN: MANAJEMEN QURBAN AMAN, SEHAT, UTUH, DAN HALAL (ASUH)
Materi ini dirancang agar mudah dipahami oleh panitia
qurban, takmir masjid, maupun
Juru Sembelih Halal (JULEHA) - Disarikan dari berbagai sumber.
HARIS FAUZI, S.Pd.I., M.Pd.
085691441931 | harisfauzi156@gmail.com | harisfauzi156.blogspot.com
Sekretaris MUI Kec.
Kemang, Kab. Bogor
Juru Sembelih Halal Sertifikat
Halal Science Center (HSC) IPB University dan LPPOM MUI
RINGKASAN MATERI
MANAJEMEN QURBAN AMAN, SEHAT, UTUH, DAN HALAL (ASUH)
1. PENDAHULUAN
Ibadah qurban bukan sekadar ritual menyembelih hewan, melainkan bentuk
ketaatan yang harus memenuhi dua pilar utama:
- Keabsahan
Syariat: Memenuhi rukun dan syarat agar ibadah diterima.
- Kesehatan dan
Kelayakan (Kesejahteraan Hewan/Kesrawan): Memastikan daging yang
dihasilkan aman, sehat, utuh, dan halal (ASUH) untuk dikonsumsi
masyarakat.
2. SESI I: ASPEK SYARIAT (FIKIH QURBAN)
A. Syarat Sah Hewan Qurban
Tidak semua hewan bisa dijadikan qurban. Berdasarkan syariat, hewan
harus memenuhi kriteria berikut:
1)
Jenis Hewan: Harus Bahimatul An'am
(hewan ternak): Unta, Sapi, Kerbau, Kambing, atau Domba.
2)
Usia Minimal:
a.
Kambing/Domba: Minimal 1 tahun (masuk
tahun ke-2) atau sudah musinnah (ganti gigi/poya).
b.
Sapi/Kerbau: Minimal 2 tahun (masuk tahun
ke-3).
c.
Unta: Minimal 5 tahun.
3)
Bebas dari Cacat Utama: Berdasarkan hadis
Nabi SAW, hewan tidak sah jika:
a.
Buta sebelah atau kedua matanya jelas-jelas
buta.
b.
Sakit yang tampak jelas kurus atau lemahnya.
c.
Pincang yang membuatnya tidak bisa berjalan
bersama kawannnya.
d.
Sangat kurus hingga tidak mempunyai sumsum
tulang.
B. Rukun dan Sunnah Penyembelihan
1) Rukun
(Wajib):
a.
Penyembelih adalah seorang Muslim yang berakal. Usahakan
yang dikenal keislamannya tidak diserahkan penyembelihan kepada sembarang orang.
b.
Memotong 3 saluran utama:
§ Al-Halqum
(Saluran napas/tenggorokan).
§ Al-Mari'
(Saluran makanan/kerongkongan).
§ Al-Wadajain
(Dua pembuluh darah arteri karotis dan Vena jugularis).
c.
Membaca Basmalah (Bismillahirrahmanirrahim
atau cukup Bismillah) saat menyembelih atau lengkap dengan takbir Bismillahi
Allahu Akbar.
2) Sunnah:
a.
Menghadapkan hewan ke arah Kiblat.
b.
Membaca Takbir (Allahu Akbar) dan
bershalawat.
c.
Membaca doa penerimaan qurban (Allahumma hadza
minka wa ilaika fataqabbal min...).
d.
Menggunakan pisau yang sangat tajam (mempercepat
proses kematian).
3. SESI II: ASPEK KESEHATAN DAN KESEJAHTERAAN HEWAN (KESRAWAN)
A. Penanganan Hewan Pra-Penyembelihan (Resting period)
Hewan yang stres akan menghasilkan daging yang kualitasnya buruk
(gelap, keras, dan cepat busuk) karena kadar asam laktat yang drop.
Ketika hendak mengasah atau menajamkan pisau tidak dilakukan di
hadapan/terlihat oleh hewan.
1) Istirahatkan
Hewan: Puasakan hewan dari pakan selama 6-12 jam sebelum disembelih
(tetap beri minum). Ini bertujuan menekan isi rumen/lambung agar tidak
mencemari daging saat dibedah dan mengurangi risiko muntah.
2) Tempat
Penampungan: Harus teduh, tidak kepanasan, tidak membuat hewan saling
menginjak (pisahkan sapi-kambing), dan penyembelihan jangan terlihat oleh hewan
yang lain.
B. Teknik Merebahkan Hewan yang Manusiawi
1) Dilarang
keras: Membanting hewan, menyeret ekor/telinga, atau memukul.
2) Metode
Burley atau Rope Squeeze: Gunakan teknik tali simpul yang aman untuk
merebahkan sapi secara perlahan tanpa membuat hewan panik atau cedera.
[Teknik Burley: Tali dilingkarkan di leher, dada, dan perut sapi, lalu
ditarik lurus ke belakang oleh tim agar sapi rebah perlahan pada sisi kiri]
4. SESI III: PROSES PENYEMBELIHAN DAN HIGIENE SANITASI
A. Eksekusi Penyembelihan
1)
Posisikan leher hewan agak meregang.
2)
Lakukan penyembelihan dengan satu kali
tarikan/dorongan pisau yang mantap tanpa mengangkat pisau dari kulit leher
sebelum 3 saluran putus.
3)
Tunggu hingga hewan benar-benar mati sempurna
(tidak ada refleks mata, ekor, dan darah berhenti memancar).
4)
PENTING: Dilarang keras memotong kaki,
menguliti, atau memotong ekor sebelum hewan dipastikan mati total. Hal ini
termasuk penyiksaan berat (Maimah) dan hukum potongan dagingnya bisa
menjadi haram.
B. Penanganan Daging dan Jeroan (Higiene Sanitasi)
Untuk mencegah kontaminasi bakteri (E. coli, Salmonella),
terapkan sistem SOP Bersih:
1) Pemisahan
Area: Pisahkan dengan tegas Area Bersih (pengulitan, pemotongan
daging, penimbangan) dan Area Kotor (penyembelihan, pengeluaran jeroan).
2) Gantung
Karkas: Proses pengulitan dan pemotongan sebaiknya dilakukan dalam posisi
karkas (tubuh hewan) digantung. Jangan biarkan daging menyentuh tanah/lantai
tanpa alas bersih.
3) Manajemen
Jeroan:
a.
Pisahkan jeroan hijau (lambung, usus) dari
jeroan merah (hati, jantung, paru).
b.
Cuci jeroan di area khusus yang terpisah jauh
dari area daging. Jangan mencuci jeroan di sungai yang tercemar.
5. SESI IV: PENGEMASAN DAN DISTRIBUSI
|
Kategori |
Tindakan Terbaik |
Hal yang Harus Dihindari |
|
Wadah |
Gunakan besek bambu, daun jati/pisang, atau plastik bening (khusus
makanan/food grade). |
Plastik hitam daur ulang (mengandung zat karsinogenik/pemicu kanker). |
|
Pencampuran |
Pisahkan kantong antara daging dan jeroan. |
Mencampur daging dan jeroan dalam satu kantong (mempercepat
pembusukan daging). |
|
Waktu |
Distribusikan daging maksimal 2–4 jam setelah penyembelihan. |
Membiarkan daging menumpuk terlalu lama di suhu ruangan tanpa es. |
6. KESIMPULAN / CHECKLIST PANITIA
Sebelum hari-H, pastikan panitia mencentang kesiapan berikut:
- [ ] Pisau tajam
(bisa mencukur bulu/memotong kertas dengan mulus).
- [ ] Asahan agar
pisau yang tumpul dapat segera dipertajam Kembali.
- [ ] Tiang gantungan
karkas tersedia.
- [ ] Terpal alas
cacah (gunakan alas agar daging tetap bersih)
- [ ] Talenan dapat
dari fiber atau kayu yang cukup kuat.
- [ ] Sumber air
bersih yang melimpah dan sabun cuci tangan.
- [ ] Area kotor
(lubang darah & jeroan) terpisah dari area bersih.
- [ ] Kantong ramah
lingkungan/food grade siap pakai.
- [ ] Siapkan data
penerima valid untuk distribusi.


2 Comments
JazakalLoh
ReplyDeleteAmin, waiyyak.. 👏
Delete